Ulang Tahun

Published Maret 11, 2017 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Kemarin hari ulang tahun saya. Ah, lebih tepatnya tanggal yang sama saat 29 tahun yg lalu saya telah dilahirkan ke muka bumi (menurut penanggalan masehi).

Dulu, saat masih kecil hingga remaja, saya begitu menunggu-nunggu tanggal istimewa ini. Karena di hari itu saya biasanya bakal dapat banyak kado. ^_^

Sekarang, saat sudah jadi emaknya anak2, saya… tak begitu peduli dengan hari ulang tahun. Karena kabarnya perayaan ulang tahun bukan termasuk kebudayaan Islam. 
Anyway… kalo ada yg ngasih ucapan ulang tahun, sy tetap bahagia. Karena itu saya anggap sebagai penghargaan.

Bertambahnya jumlah tahun usia, tandanya berkuranglah jatah kehidupan. Selama kurun 29 tahun ini, apa saja yg sudah saya perbuat, apa yg sudah saya kontribusikan, apa amal unggulan saya, seberapa banyak pundi-pundi pahala yang sudah saya kumpulkan… oh Rabb cintaku… maafkan segala salah dan dosa hamba.. apa jadinya bila segala amal itu sia-sia karena ujub dan riya, apa jadinya bila dosa ternyata lebih banyak dari pahala, apa jadinya bila Engkau tak beri Rahmat dan ampunan… astaghfirullahal ‘azim..

Astaghfirullahal’azim..

Ampuni yaa Rabb.. hamba mohon ampunMu…sayangMu, CintaMu.. selalu.. aaamiin

Tak Selalu Sama

Published Februari 28, 2017 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya sedang pengen nulis bebas boleh ya..

Teringat ketika hamil fatih dulu, trimester awal itu heboh banget.

Mualnya itu loh… gak ketulungan. Indra penciuman sy begitu tajam sehingga mengakibatkan sy mual atas benda-benda yg sebelumnya biasa saja.

Contoh:  gak bisa tercium bau bawang mentah, bau nasi, bau parfum suami (apalagi bau badan..hhe), bau pewangi cucian, de el el.

Alhasil, sy gak bisa makan nasi dan berhenti masak. Karena hampir semua masakan pake bawang dan dapur itu tercium bau bawang. Jadinya sy hanya makan lontong, sate, lotek, dsb. (Sok banyak duit, beli mulu..hehe, gak kok, beneran gak bisa makan nasi. Kalo dipaksa… mual)

Lama kelamaan saya memaksakan diri makan nasi.. tapi gak bisa nyuap sendiri. Harus disuapin suami.. (hadduhhh lebay)

Hehe… beneran pemirsa. Saya waktu itu sama sekali gak merasa lebay. Karena kalo makan nasi pake tangan sendiri, sy jd mual. Tapi kalo disuapin suami, bisa banyak makan saya.. wkwk. Ah, masa gak percaya? Serius..

Saya terus menahan diri, semual apapun jangan sampai muntah. Tapi apa daya, di awal bulan ke empat kehamilan, pertahanan saya runtuh juga… sehari semalam sy muntah-muntah parah… 7 kali berturut-turut. Sampai udah teler.. hampir aja ke RS.

Semoga pas hamil yg kedua, gak separah itu.. aamiin

Tulisannya pak de tentang menjadi murabbi goblok

Published Januari 14, 2017 by Hawa

​Murabbi Goblok

Oleh : Cahyadi Takariawan


Maafkan saya jika judul di atas tampak terlalu kasar dan vulgar. Kalimat itu terinspirasi oleh sebuah diskusi dengan kader-kader dakwah dari Kulonprogo, yang menyatakan bahwa saat ini perangkat tarbiyah sudah sangat canggih, namun justru terkesan menyulitkan dan tidak praktis. Berbeda dengan zaman dulu saat para murabbi belum mengenal berbagai sistem dan perangkat dalam manhaj tarbiyah, justru sangat PD membina dan menghasilkan kader handal. Mengapa sekarang justru banyak yang tidak PD membina, padahal perangkat sudah sangat lengkap?
Pada era sebelum tahun 2000, apalagi sebelum tahun 1990, para murabbi dengan sangat percaya diri melakukan rekrutmen dan melakukan pembinaan dengan berbekal sedikit materi tarbiyah. Daurah Murabbi pada masa itu hanya berisi transfer materi alias talaqi madah. Tidak menggunakan banyak perangkat yang canggih, sejak dari perangkat lunak berupa manhaj maupun perangkat keras seperti teknologi. Semua serba sederhana, serba terbatas dari segi fasilitas, namun ternyata sangat optimal dari segi hasil.
Waktu itu kita duduk melingkar di masjid atau pesantren, atau duduk di ruang tamu seorang kader yang disulap menjadi tempat daurah. Lesehan, dengan tikar yang sudah lapuk dan bolong di sana sini. Para muwajih menyampaikan talaqi madah secara ringkas, dengan menggunakan sarana papan tulis serta kapur putih untuk catat mencatat. Kemudian kita makan dengan nasi bungkus yang sangat sederhana, atau makan bersama dalam satu wadah besar. Suasana kebersamaan sangat kuat, dengan semangat yang juga sangat kuat.
Sepulang dari daurah, semua peserta langsung menyampaikan madah yang didapatkan kepada para mutarabi di kelompok-kelompok binaan. Sepulang dari daurah kita merasa semangat dan bisa meneruskan kepada binaan, seperti yang kita dapatkan dari muwajih di daurah murabbi.
Kita sekarang belajar “teknologi tarbiyah”, sejak dari visi, misi, tujuan, metodologi, sarana, evaluasi, promosi tarbawi, penugasan dan lain sebagainya. Sangat sistematis, lengkap dan utuh menyeluruh. Bahkan mendapatkan materi tentang micro-teaching, retorika, public speaking, dinamika kelompok, teamwork, dan materi penunjang lainnya. Sepertinya sudah sangat komplit dan utuh, tidak ada yang tidak tersentuh dan tersampaikan.
Kita daurah di ruang nyaman ber-AC, duduk di kursi, tidak lagi lesehan. Kita menggunakan LCD, dan semua madah boleh dicopy di flasdisk atau bahkan dikirim melalui email ke setiap peserta. Kita makan dengan menu yang lebih layak, tidak lagi nasi bungkus. Para peserta dari jauh datang dengan sarana pesawat serta tidur di hotel. Mereka juga membawa laptop, serta smartphone untuk kemudahan komunikasi. Sudah sangat mendukung fasilitas yang kita dapatkan. Namun ‘tiba-tiba’ kita dikejutkan dengan keluhan kesulitan merekrut dan membina……
Adakah Pelajaran Tarbiyah dari si Bob?
Belum lama Indonesia kehilangan salah seorang pengusaha nyentrik namun sukses, Bob Sadino. Kita mengenal “ajaran” Bob Sadino adalah tentang filosofi ‘goblok’. Dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, Bob menyatakan bahwa orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan diajarkan bisa. Orang bisa, tentu berada beberapa langkah di depan orang yang hanya tahu. Lebih parah lagi, orang sekolahan biasanya hanya tahu dan belum tentu mengerti, sehingga dalam melangkah banyak ragu-ragu. Takut begini, takut begitu, karena terlalu banyak rambu.
Sementara itu, orang yang besar di jalanan hanya mengajarkan satu hal : lakukan saja! Tidak ada teori yang rumit dan pikiran yang negatif atau penuh kekhawatiran. Kata Bob, orang yang pintar di jalanan berani melawan ketakutan yang biasanya membisikan teror, “bagaimana nanti kalau gagal,” atau “jangan-jangan nanti bangkrut,” dan lain-lain. Orang jalanan menjadi pintar dan bisa karena melakukan atau menjalankan secara langsung. Mengalami benturan masalah, menghadapi problematika riil yang harus dicari jalan keluarnya secara praktis. Itu yang membuat mereka bisa.
Itu sebabnya Bob sering menyatakan, kalau anak kuliahan dengan IPK di atas 3, itu tanda calon karyawan, bukan calon bos. Teori perkuliahan saja tidak cukup membuat seseorang sukses dan menjadi bos. Diperlukan ilmu jalanan, praktek langsung, bergulat dengan medan kenyataan. Itu yang menempa seseorang menjadi bisa, dan pada akhirnya bisa sukses dalam usaha.
Ternyata Bob Sadino memang memulai bisnis dari jalanan, bukan dari sekolahan. Dia memulai dengan berjualan telur, daging ayam, sayur-mayur dan buah-buahan. Dia tidak menghadapi segala masalah dengan senjata teori, melainkan dengan praktek langsung. Bob juga mempunyai cara unik dalam melakukan pengawasan, yaitu dengan cara ikut bekerja bersama para karyawannya. Bahkan Bob betah seharian ikut melakukan pekerjaan karyawan.
Bob tidak segan bergaul dengan para karyawan mulai dari top level sampai pegawai paling rendah seperti tukang sapu atau office boy. Ia memosisikan diri seperti rekan kerja, teman, sahabat atau bahkan keluarga. Dengan cara seperti ini, semua karyawan menjadi nyaman dengan dirinya, dan pada saat yang sama ia bisa mengawasi serta mengontrol pekerjaan karyawan.
Bagaimana Menjadi Murabbi Goblok?
Sangat tidak tepat istilah ini, tidak perlu dikembangkan lagi. Intinya kita perlu menjadi murabbi yang berpikir simpel, langsung praktek, tidak takut gagal, tidak takut salah, belajar dari kesalahan membina, mau akrab menemani mutarabi, serta menyampaikan hal yang bisa disampaikan.
1. Berpikir simpel
Jangan terlalu rumit memandang proses tarbiyah. Merasa belum menguasai manhaj, merasa belum menguasai ilmu alat, merasa belum menguasai mawad tarbiyah, sehingga akhirnya tidak membina. Itu karena terlalu rumit cara memandang tarbiyah. Simpel saja, tarbiyah itu aktivitas bersama antara murabbi dengan mutarabbi untuk menghantarkan mereka menuju muwashafat tarbiyahnya.
Tanpa metode yang rumit, tanpa materi yang sulit, bahkan hanya dengan mengobrol santai saja, tarbiyah bisa berjalan. Lakukan saja, mulai saja, membina saja. Membina itu simpel kok…
2. Langsung praktek
Tidak perlu berkutat dengan banyaknya teori. “Saya belum mengerti bagaimana cara mengevaluasi mutarabi”, itu tidak masalah. Nanti saja dipelajari. Sekarang langsung praktek, langsung membina saja. Tidak perlu IP tinggi dalam tarbiyah, cukup kemauan belajar dan semangat melakukan pembinaan.
Jika menunggu sampai menguasai semua hal dalam “teori tarbiyah”, maka akan membuat tidak segera memulai praktek membina. Akhirnya hanya menjadi peserta daurah murabbi abadi, menguasai banyak teori, namun tidak mau praktek. Sudahlah, langsung praktek saja dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang pasti masih kita miliki.
3. Tidak takut gagal membina
Gagal membina itu wajar saja. Banyak murabbi pernah mengalami. Kita tidak perlu takut gagal, takut membubarkan kelompok binaan, takut gagal menjadikan mutarabi menjadi kader yang handal. Sudahlah, mulai saja, lakukan saja, tidak perlu takut gagal atau bubar di tengah jalan.
Ketakutan membina justru menjadi momok yang membuat tidak melakukan pembinaan. Padahal ketakutan itu justru akan terjawab dengan praktek melakukan pembinaan secara langsung. Kalau tidak praktek, bagaimana bisa mengetahui akan gagal atau berhasil?
4. Belajar dari kegagalan membina
Bahkan ketika kita gagal membina, atau binaan bubar di tengah jalan, itu bisa memberi pelajaran penting tentang faktor-faktor kegagalan dan keberhasilan tarbiyah. Bukan mendapatkan ilmu lewat teori kuliah, tetapi mendapatkan ilmu dari praktek langsung di lapangan. Gagal pun ada pelajaran yang penting bagi pembentukan karakter murabbi dan kemampuan membina.
Lakukan pembinaan, jika bubar, lakukan rekrutmen lagi, lalu dibina lagi dalam satu kelompok pembinaan. Jika kelompok kedua ini bubar lagi, rekrut kelompok berikutnya dan langsung dibina lagi, begitu seterusnya. Jangan takut gagal membina.
5. Tidak takut salah
Setelah mengerti sangat banyak hal renik dari “teori tarbiyah”, kadang memunculkan ketakutan jangan-jangan tidak bisa sesuai dengan teori. Jangan-jangan cara saya membina tidak standar sebagaimana tuntutan manhaj. Ketakutan itu justru memberatkan diri sendiri. Setelah mengikuti daurah murabbi yang menjelaskan “teori tarbiyah”, segera praktek dan menjalankan program pembinaan. Tidak perlu takut salah, takut tidak sesuai teori, dan seterusnya.
Tarbiyah itu proses, bukan sekali jadi. Maka yang penting mulai saja. Jika ada yang kurang dalam senuthannya, bisa dipoles sembari proses berjalan.
6. Mau akrab menemani mutarabi
Mutarabi kita sekaligus bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi kita. Lakukan pendekatan dari hati ke hati, mau duduk akrab dengan mereka, tidak berjarak, mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya. Itu akan membuat kedekatan murabbi dengan mutarabbi semakin baik, dan akan membuat proses tarbiyah semakin efektif.
Berakrab dengan mutarabi juga sekaligus kontrol terhadap kondisi mereka. Murabbi bisa mengetahui situasi pemikiran dan jiwa mereka dalam berinteraksi dengan tarbiyah selama ini.
7. Sampaikan apa yang bisa disampaikan
Nanti sore jadwal mengisi halaqah tarbawiyah? Jangan stres. Sampaikan saja apa yang bisa anda sampaikan. Mungkin berupa kisah, cerita, atau mengulas berita, atau menyampaikan satu madah tarrbiyah, atau memberikan tugas mutarabi untuk membaca buku tertentu dan menyampaikannya di forum, atau apa saja yang anda bisa. Jangan terbebani dengan pikiran “tidak punya sesuatu untuk disampaikan”.
Anda bisa menyampaikan apa saja, termasuk cerita kejadian yang anda alami bersama keluarga. Itu bisa memancing diskusi menarik untuk diambil pelajaran pentingnya.
Sudah siap? Harus siap. Semua harus membina, walau hanya satu kelompok binaan. Masih ada yang belum membina? Mungkin anda terlalu pandai

Nostalgia

Published Desember 10, 2016 by Hawa

Assalamualaikum wr wb

Anak sholeh ummi… nostalgia… pake sepeda bayi… 

Konon karena ngeliat dedek ba’im (tetangga sebelah) yang usianya masih 6 bulan, sering pake sepeda kayak gitu.. eh, anak bujang ummi pengen pake sepeda gitu juga.. hadeuh…

Baiklah nak…

Aku (bukan)Lelaki Sempurna—-> (CerPen)

Published Desember 10, 2016 by Hawa


Aku lelaki mapan, bekerja di salah satu BUMN yg cukup bonafit di negeri ini. Gaji bulananku termasuk yang paling besar dibanding gaji PNS di seluruh Indonesia. Yah, maklum disamping jabatanku cukup strategis, aku juga ditempatkan di pedalaman. Sudah jadi rahasia umum kan ya kalo kerja di pedalaman itu bayarannya guede…

Aku tampan… yah, begitulah kata orang-orang di sekitarku.. teman-teman kantor kerap memuji. Entah itu tulus atau hanya akal bulus, yang jelas gara-gara sering dipuji begitu, aku jadi yakin kalau aku gak jelek. Kulitku putih dan postur tubuhku besar tinggi. Hmm, kayak atlet basket gitu lah..haha

Aku Sholeh.. InsyaAllah.. bukannya takabur. Namun, begitulah caraku untuk menilai kualitas spiritualku. Aku tak pernah melalaikan sholat, sering puasa sunnah, dan tilawah qur’an setiap hari, walau gak berlembar-lembar, yah tapi lumayanlah .. istiqomah mengaji. Kepada orang tua, aku sangat patuh dan berbakti. Kepada sesama, aku selalu menjalin silaturahmi yang baik.

Meski telah menyandang status perjaka tampan, mapan dan sholeh, aku tak serta merta gampang mendapatkan pendamping hidup.

Tiga kali sudah, rencana pernikahanku gatot alias gagal total. Yang pertama, gadis yang kucintai sekian lama menolak menikah denganku setelah mengetahui bahwa aku ditempatkan di daerah pedalaman nun jauh di ujung negeri. Gadis yang kuimpikan tersebut awalnya menerimaku di proses ta’aruf kami. Namun, setelah pengumuman penempatanku tersebut, ia membatalkan penerimaannya terhadapku. Aku syok sekali.. perlu waktu yang lama bagiku untuk mengobati hancurnya hatiku. Namun, aku sadar tak boleh begitu terus, karena menikah adalah sunnah nabi.. maka aku tak boleh putus asa mencari jodoh.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai dapat menata hati. Kucari-cari di media sosial, kira-kira siapa ya yang bisa kujadikan pendamping hidup. Kriterianya kemudian menjadi lebih detail. Wanita yang akan kupersunting kelak, haruslah wanita yang tempat asalnya sama denganku, yaitu di Bangka, supaya kalo pulang kampung bisa sama arahnya. Terus, dia mesti penyabar, karena rutinitas harianku sangat padat. Istriku kelak harus mengerti bahwa aku tak selalu dapat bersamanya di rumah, kadang aku harus ke luar kota seminggu, di rumah seminggu. Begitulah silih berganti. Dan syarat yang selanjutnya, tentu saja ia harus sedap dipandang alias cantik..hehe… ah, poin ini tak bisa dielakkan. Kecantikan wanita itu juga alat perekat rumah tangga. Mana mungkin aku bisa betah di rumah, kalau aku tak menyukai wajah istriku kelak.

Singkat cerita, akupun menemukan sosok yang kuidamkan tersebut di salah satu sosial media. Ia adik kelasku dulu di SMA. Ah, aku tak mengenalnya dulu. Tapi kami tergabung di grup rohis di salah satu grup sosmed. Aku telusuri profilnya, tak ada foto yang tampak jelas, sepertinya ia sengaja. Yah, maklumlah kelihatannya ia muslimah yang punya prinsip tak posting foto di sosmed. Tapi, akhirnya kudapati foto yang “agak” jelas.. foto wisudanya. Hmm.. cantik.. begitu penilaian awalku.

Setelah kucari-cari info tentangnya, akhirnya aku memantapkan hati untuk ta’aruf dengannya, tentu setelah sujud-sujud dalam istikharahku. Alhamdulillah, iapun menerimaku. Aku seperti mendapat durian runtuh. Hampir saja aku percaya bahwa ia adalah jodoh ku, sampai terjadi satu hal diluar kendaliku. Rupanya dalam proses menuju pernikahan, orang tuaku tersinggung atas perkataan calon mertuaku yang menginginkan uang hantaran yang besar. Karena tersinggung, orang tuaku membatalkan rencana pernikahan kami.

Aku down sekali… ini yang kedua, kegagalan menuju pernikahan. Allahu rabbi… aku hampir putus asa…  wanita yang kedua tersebut sangat dekat dengan segala kriteria yang kuinginkan, tapi Engkau berkehendak lain. Dua bulan sebelum acara pernikahan, semuanya Batal. Allahu Akbar..

Beberapa bulan setelah kejadian itu, orang tuaku mencarikan seorang wanita sholihah untukku. Ia seorang mahasiwa kedokteran yang hampir menyelesaikan studinya. 

Cantik juga.. walau tak secantik yang sebelumnya, tapi itu tak penting lagi bagiku. Kini, yang paling penting adalah wanita tersebut mau ikut mendampingiku kemanapun aku dipindahtugaskan kelak.

Seiring perjalanan waktu, aku telah menyerahkan semuanya pada orang tuaku. Kalau mereka sudah setuju, ya sudah.. ayo menikah.. begitulah kupasrahkan saja. Kemudian, Lamaran kamipun diterima. Rencana persiapan acara ditetapkan sudah. 

Beberapa hari menjelang pernikahan, ada kabar mengejutkan dari pihak keluarga mereka. Bahwa pernikahan tak bisa dilanjutkan, rupanya si wanita telah memiliki pujaan hati. Pria tersebut mengaku telah melamar wanita tersebut sebelum keluargaku melamarnya. 

Rupanya pria tersebut melamar ke pihak paman tertua yang tinggalnya di Jakarta. Belum sempat memberi kabar, malah keluarga di bangka sudah menerima lamaran kami. Sebenarnya, posisiku lebih kuat karena yang menerima lamaranku adalah ayah dan ibu si gadis. Namun, karena si gadis telah memilih pria itu, ya apa boleh buat.. aku dan keluargaku mundur.. segala rencanapun Batal.

Kini, aku masih sedang menata hati, menata ibadah, memperbaiki apa-apa yang bisa diperbaiki. Aku bermohon pada Allah, agar kelak dipertemukan dengan belahan jiwa yang Allah Ridhoi saja.. aku kini yakin, pilihan Allah pasti yang paling baik. Bukan sesempurna mataku memandang, bukan sebaik- baik pilihan yang dicarikan orang tuaku. Tapi pasti yang paling sesuai dengan bingkai kehidupanku.

Sudah kupasrahkan padaMu Yaa Rabb.. sudah kuikhlaskan…

#Selesai#

Uang Tak Pernah Banyak

Published Desember 9, 2016 by Hawa


Bismillah..

Kemaren sore sepulang kerja, saya merasa punya sedikit uang berlebih daripada biasanya. Jadi saya berencana beli oleh2 untuk keluarga di rumah sesuatu yang agak mentereng.

Biasanya  oleh2 nya gorengan, atau onde-onde, atau buah semangka.. dsb jenis makanan yang mumer dan banyak, jadi puas kan ya makanin itu rame2 sekeluarga besar..

Pas lagi mikir kayak gitu, saya melewati sebuah toko pizza ternama di kota ini, eh di negeri ini..

Hmm… kayaknya kali ini beli pizza aja deh.. pikir saya begitu.

Singkat cerita, pizza ukuran medium pun menjadi pilihan. Alhamdulillah bisa beli pizza ..(kesian banget yak… hehe).

Dan pizza ukuran medium itu dibungkus dalam ukuran big.. alhasil timbul masalah baru, gimana cara bawanya ya? Pizza ukuran big gini kan gak boleh dibawa miring kan ya… haduh.. 

Di tengah kebingungan di parkiran motor, datanglah bapak satpam yang baik hati, “kenapa bu? Mau bawa pizzanya pake motor ya… diiketin di jok belakang aja bu, biar aman” gitu katanya

Dalam waktu singkat, bapak satpam yang baik hati itu sudah datang dengan tali rafia dan menyelesaikan urusan ikat mengikat paket pizza itu di jok motor saya.

“Makasih banyak ya pak” kata saya setelahnya. Ah, pizza ini bukan saja mahal, tapi juga rempong ya bawanya..hehe

Sesampainya di rumah, itu pizza yang cuma 6 icis,  dah dibagi seicis sorang anggota di rumah..hehe

Bertambah lagi kesimpulan di kepala saya. Makanan mentereng kayak gini rupanya gak cocok ya buat saya.. udah harganya dahsyat, bawanya rempong, jumlahnya gak banyak, dan rasanya gak sedahsyat harganya… 🙂

Okeh .. okeh..

Dan uang yang berlebih tadi, tinggal kenangan… hehe.

Dari sana saya jadi menarik kesimpulan:

“Uang itu hakikatnya tak pernah banyak. jika ia banyak, kita akan mengeluarkannya lebih banyak karena kebutuhan atau keinginan kita jadi meningkat. Maka yang penting itu bukan uang banyak, melainkan uang yang berkah. Karena bila berkah, ia akan tambah banyak, contohnya, kalo uangnya disedekahkan. Kalo tidak berkah, ia bisa jadi tambah sedikit. Contohnya uang korupsi yang bisa jadi membuatnya sakit-sakitan sehingga mengeluarkan biaya yang banyak untuk pengobatannya”

Sekian kesimpulan yang saya dapat simpulkan setelah triliunan orang telah menyimpulkannya lebih dulu. 😀

Alhamdulillah.. 

Ia telah Berkorban…

Published Desember 7, 2016 by Hawa

Assalamualaikum

Saya mengenang.. pengorbanannya nyata, seperti yang ia tuliskan..

Saya mengaguminya… pribadi santun nan penuh semangat

Saya menyukai tulisannya, karena ia tak hanya mengukir kata, melainkan juga bergerak dengan sebenarnya…

Ia adalah Almarhumah kak Lusy Desriani..

Izinkan saya mengutip tulisannya berikut ini:

Berkorbanlah..!

Bismillah…

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (Al Kautsar /Nikmat yang banyak : 1-2)


Saat subuh mulai mendekat dan tiba-tiba diri ini terbangun dari mimpi yang melenakan. Ketika saatnya harus menjalani rutinitas dengan penuh semangat. Kita diajarkan untuk memujiNya ketika mata ini menyala menatap hari baru. Memang tidak semua orang yang diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar yang menyenangkan hati. Ada orang yang ruhnya tidak dikembalikan lagi ke jasadnya. Tapi kita masih diberikan kesempatan untuk terus berbekal menghadapi masa kini untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, diri, akhlak dan amalan lainnya. Sungguh ketika kita coba menghitung berapa nikmat yang telah diperoleh semenjak dilahirkan ke atas bumi ini, maka kita takkan sanggup melakukannya. Teramat banyak yang telah diberikan ALLAH bagi diri kita.

Kehidupan merupakan masa di mana ALLAH menguji setiap orang dengan ujian yang berbeda-beda. Karena sejatinya hidup itu adalah perjuangan. Dibutuhkan sebuah pengorbanan yang menjadi bukti kesungguhan diri dalam melalui setiap medan juang yang ada di hadapan mata. Pejuang sejati tidak akan mudah merasa menyerah atau melemah kala badai ujian menghadang karena ia selalu tegar atas apapun yang terjadi. Ia sadar di mana posisinya saat ini. Ia tahu bahwa ada penolong yang Maha Kuat tempat ia bersandar dan meminta kekuatan dalam berjuang.

Belajar dari pengorbanan Siti Hajar yang mau mengikhlaskan Ismail untuk disembelih. Walaupun digoda oleh setan laknatullah agar membatalkan rencana Ibrahim untuk mengorbankan anaknya. Namun godaan itu ditepis sekuat tenaga dan ia pun merelakan apa yang dilakukan oleh Ibrahim as. Karena ia sadar yang memerintahkan adalah Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Tak memberontak dalam jiwanya dan menyalahkan takdir atas apa yang akan terjadi pada diri anak kesayangannya. Hal ini disebabkan juga karena rasa cinta yang mendalam kepada ALLAH SWT. Orang-orang yang telah diberikan kenikmatan dalam berkurban akan mendapatkan buah dari keikhlasannya. Sebuah balasan yang tak berhingga baik di dunia maupun di akhirat. Itulah janji ALLAH Azza wa Jalla, yang tidak akan pernah mungkir janji.

Berkurbanlah dengan apa pun yang kita miliki untuk tegaknya kalimat Islam di atas muka bumi. Bersedekah untuk orang-orang yang membutuhkan, mengajak teman untuk mengerjakan salat tepat waktu, menyingkirkan duri di jalan, menggunakan jilbab dalam keseharian, bershalawat kepada Muhammad SAW, membantu saudara yang membutuhkan pertolongan, mengajari teman dalam memahami pelajaran di kuliah, memberikan senyuman pada orang sekitar, jujur dalam ujian akhir semester, dll. Ada banyak yang bisa kita berikan baik harta, ide, waktu, dan tenaga.Khairunnas ‘anfaum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain).

Hidup indah jika kita mau berkurban di dunia ini. Masa indah yang tak akan terlupakan ketika apa yang kita berikan dapat bermanfaat bagi orang lain. Keikhlasan merupakan kunci dari pengorbanan. Cukuplah ALLAH SWT yang menilai setiap pengorbanan yang telah kita lakukan. Bukan pujian yang diharapkan karena apalah artinya pujian semu. Orang-orang pilihan yang memiliki keimanan dan kecintaan pada Rabbnya akan terus berjuang dan terus berkurban karena ia sadar bahwa itu adalah sebuah keniscayaan. Maka, mari berkurban untuk mencari keridhoan ALLAH SWT baik di kala senang maupun susah !!!

“Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (Al Mumtahanah/wanita yang diuji : 4)

oleh: Lusy Desriani, Koordinator Jaringan Muslimah Daerah FSLDK SUMBAR.