Jodoh Itu Gimana?

Published Juli 28, 2016 by Hawa

Jodoh itu sudah ditakdirkan

setiap orang sudah ditentukan siapa pasangannya

sudah ditentukan dimana ia akan bertemu kekasihnya

pun sudah dituliskan bagaimana cara bertemunya.

 

Mau pacaran atau tidak mau pacaran

Tetap akan yang ditakdirkan itulah jodohnya

Walau A sudah pacaran sama  B, C, D dan E

Kalau sudah dituliskan jodohnya itu Z,

Maka dengan Z lah ia akan menikah

tidak akan tertukar

 

Kalau sudah ditentukan begitu,

Percuma aja pacaran kan ya?

Buang-buang waktu, tenaga, dan biaya

 

Tapi, bukanlah jalan yang benar bila berdiam diri saja

Menunggu tanpa usaha apa-apa

Bukan itu yang diajarkan Rasulullah,  sang tauladan sepanjang masa

 

Maka Berusahalah dalam do’a

Do’a-do’a yang panjang, khusyuk meminta

Dalam waktu-waktu mustajab

Dalam sujud padaNya

Minta PadaNya, Jodoh yang Baik

Baik di mata Nya, bukan di matamu

 

Kemudian Berusaha dalam ‘amal

Perbanyak tilawah, puasa, sedekah

Hafalkan ayat-ayatNya

Bantu sesama yang membutuhkan

jadilah pribadi yang baik

agar dijodohkanNya dengan yang baik

karena jodoh itu adalah cerminan dirimu

 

Berusaha dengan minta tolong orang-orang baik

Keluarga dekat, sanak saudara

Teman-teman, karib kerabat

Para sholih wa sholihat

insyaAllah banyak yang akan memberi manfaat

 

jangan Lupa, bagi anak gadis…

adalah tugas ayahnya untuk mencarikan

pasangan sholeh untuk anaknya

layaknya baginda Umar kepada Hafshah

 

setelah semua usaha yang giat

bertawakallah pada Sang Penguasa Alam

Ialah yang mempertemukan adam dan hawa

Setelah berjuta-juta kilometer terpisah

Jadi, apa susahnya bagi Allah

Mempertemukanmu dengan sang belahan jiwa

Yang siapa tau tetangga sebelah

Atau teman yang sudah lama tak jumpa

 

dan semua itu bukan kata saya

itu petunjuk dari Yang Maha Kuasa

tertuang dalam Al-Qur’an, Hadis, dan contoh dari orang-orang sholeh

its work… trust me.

 

seperti film ini…

Menjaga Hidayah.. Menjaga Jilbab

Published November 29, 2015 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

jilbab kartun 1Segala puji bagi Allah SWT,  atas limpahan rahmat, nikmat dan karuniaNya pada kita semua. Shalawat dan salam untuk baginda Muhammad SAW, beserta keluarga, shahabat, tabi’in, tabiu’ut tabi’in serta seluruh kaum mu’minin para pejuang Islam hingga hari kiamat tiba.

Saya bersyukur kepada Allah SWT atas hidayahNya berupa Iman dan Islam. Betapa tak berartinya saya, anda dan semua orang bila tak memiliki kedua hal tersebut.  Keimanan dan keIslaman yang tentu saja mesti disertai dengan Ilmu sebagai dasar untuk mengamalkannya.

Saya bersyukur telah mendapat Hidayah untuk mengenakan Jilbab, yakni disaat jilbab itu sendiri masih dipandang asing di lingkungan saya waktu itu.

Saya berterima kasih kepada guru KM (Kajian Mingguan) saya dulu di SMA, yang telah memberi tahu bahwa mengenakan jilbab itu wajib bagi perempuan dan setiap jum’at memberikan pencerahan tentang ilmu-ilmu keislaman yang tidak saya dapatkan di pelajaran sekolah. Saya berterima kasih juga kepada teman-teman akhwat di RISMA AL-ASHR SMA 2 Bengkulu, terutama teman sebangku saya yang tak henti memberi  inspirasi dan membuat saya semakin lama semakin rindu ingin menunaikan kewajiban berjilbab juga..

Saya berterimakasih kepada ayah dan ibu, karena telah mengizinkan dan mendukung keputusan saya waktu itu serta memfasilitasi saya dalam berjilbab. Serta terima kasih juga kepada suami saya yang selalu membimbing dan menjaga  agar saya selalu berjilbab dengan sempurna.

Saya terkenang, Kala itu, 19 Juli 2004, hari pertama masuk sekolah di kelas 2 SMA. Selembar kain putih berenda itu telah menutupi kepala saya dan menjulur hingga dada. Lengan baju seragam SMA saya telah memanjang sampai pergelangan tangan, dan rok abu-abu sayapun telah memanjang, tak lagi sampai lutut melainkan telah sampai mata kaki. Hari itu adalah hari perdana saya dengan penampilan baru itu.

Saya pandangi diri saya di depan cermin, hmm… mantap sudah hati saya mengenakannya. Bismillah.. saya berangkat ke sekolah..

Sesampainya di sekolah, saya disambut dengan wajah suka cita dari teman-teman sekelas, dari mbak-mbak senior RISMA (Remaja Islam Masjid) Al-Ashr, dan juga dari burung-burung kecil yang bertengger di ventilasi kelas.. (hihihi.. yang terakhir ini khayalan saya doank..^_^)

“selamat ya yu..”

“barakallah ya ukhti.. ”

“selamat ya dek.. semoga istiqomah..”

Begitulah, hari itu seperti milik saya karena  saya banyak mendapatkan ucapan selamat dan do’a agar selalu istiqomah berjilbab.

Memakai jilbab di hari-hari pertama memang terasa agak berat, karena saya baru beradaptasi dengan kostum baru itu. Terasa gerah sangadhhh, apalagi bila cuaca sedang panas terik, terutama saat upacara hari senin, saat pelajaran olahraga, atau saat pulang agak lama karena ekskul dulu sampai sore. Namun, seiring berjalannya waktu, saya jadi terbiasa memakainya dan tidak lagi mengalami kegerahan seperti di awal-awal.

Di kelas 3 SMA, seorang teman sekelas (sebut saja namanya fulan) berkata pada saya.. bahwa  seorang yang berjilbab panjang itu takkan lama, orang yang berjilbab panjang itu dinamakan sedang “Puber Aqidah”. Yang namanya “Puber” tentu saja hanya sementara, pada suatu saat ia akan memendekkan jilbabnya, yah karena berbagai alasan. Yang jelas, menurut prediksi fulan, saya berjilbab panjang itu juga takkan lama, “paling juga setelah lulus SMA sudah gak panjang lagi jilbabnya” , begitu prediksinya.

“Saya tak akan begitu insyaAllah…” kata saya membatin.

Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan ke Padang, tepatnya di Universitas Andalas. Hal yang pertama kali saya cari yaitu masjid kampus..begitulah pesan guru KM saya, agar saya dapat terhindar dari lingkungan dan pergaulan yang tidak baik saat kuliah.

Alhamdulillah, banyak kegiatan keislaman di kampus, sehingga saya semakin memahami Islam dan makin mencintai pakaian (jilbab) yang saya kenakan. Malah, saya jadi semakin nyaman dan percaya diri untuk menjulurkan jilbab saya lebih lebar lagi.

Terima kasih kepada para senior saya di kampus Keperawatan UNAND, terutama kakak-kakak di NIC (Nursing Islamic Center), juga akhwatifillah di Wisma Alhusna, serta tak lupa pula kakak-abang di FSKI (Forum Studi Kedokteran Islam) yang turut andil dalam pembentukan kepribadian keislaman saya, yang telah menuntun saya dalam dakwah kampus, yang membimbing saya pelan-pelan sampai saya dapat berlari kencang… hehe… (apa coba??)

Terima kasih kepada para guru ngaji saya.. yang tak pernah lelah mencurahkan ilmu dan menularkan iman setiap pekan… terima kasih banyak…

Hmm.. kalau dipikir-pikir, begitu banyak proses yang saya lalui untuk mendapat hidayah Allah SWT, begitu banyak orang yang mempunyai andil untuk itu, dan juga bisa jadi ada banyak do’a untuk saya, hingga hidayah Allah itupun menghampiri saya untuk berjilbab, sampai akhirnya bergabung dalam barisan dakwah ilallah…

Artinya, Hidayah Allah itu sangat mahal harganya… dan tak sembarang orang mendapatkannya.

Dan saya yakin, banyak orang juga mendapatkan hidayah seperti saya. dan tugas yang lebih serius setelah itu adalah mempertahankan hidayahNya.

Masalahnya, berapa lama hidayah itu dapat bertahan di dalam diri kita?

Banyak sekali contoh kasus yang memperlihatkan bahwa hidayah itu tak dapat dipertahankan lagi setelah berada di luar kampus, misalnya setelah bekerja di lingkungan yang tidak kondusif, setelah berkeluarga, atau setelah lama tak ngaji lagi.

Maka, untuk hidayah Allah yang maha dahsyat tersebut, semoga dapat kita (para akhwat dan ummahat) pertahankan di diri kita. Caranya yakni dengan menggunakan prinsip air mengalir..  terus bergerak dan jangan berhenti mempelajari Islam dan mendakwahkannya. Sebab bila kita berprinsip seperti air tergenang, yang diam tak beriak.. maka lambat-laun akan banyak penyakit yang menggerogoti semangat keislaman dan semangat dakwah kita.

Semoga Allah menjaga hati kita untuk selalu dapat menempatkan cinta untukNya, di atas cinta-cinta lainnya.

Semoga kita dapat menjaga hidayahNya sampai akhir hayat.. aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

 

Perawat Paling Kuat

Published September 18, 2015 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Lama tidak menulis tema bebas yang terpikir di kepala. tapi tak apa, dicoba lagi ya..

Kali ini temanya tentang “dording 2 bulan”. Nah, mungkin ada yang bertanya “apa itu dording?”.

Dording adalah sebuah istilah yang saya temukan ketika dinas profesi keperawatan di klinik (Rumah sakit atau puskesmas) dulu. Dording menjadi istilah yang digunakan ketika si perawat bertugas lebih dari satu shift (1 shift : ±8 jam) sehari dengan waktu yang berdekatan. Misalnya shift pagi (dari jam 7.00-14.00 WIB) dan shift sore (14.00-21.00 WIB) atau shift sore dengan shift malam (dari jam 21.00- 7.00 WIB) atau shift malam dengan shift pagi. Biasanya yang dording itu adalah mahasiswa yang sedang menjalani konsekuensi karena sebuah kesalahan (misal: laporan dinasnya gak lengkap/ gak buat laporan) atau mahasiswa yang bertukar jadwal dinas dengan temannya karena alasan tertentu atau bisa juga karena memang dapat jadwal dinas yang begitu (kalau ini udah nasib namanya).

Nah.. yang namanya “dording” tentu saja melelahkan… karena bekerja merawat para pasien selama ±16 jam sehari. Belum lagi laporan juga harus diselesaikan. Tak pelak, mata jadi merah, tubuh jadi lemah dan malah bisa muntah-muntah.

Dulu saya kira, para sejawat yang dording itu adalah perawat yang paling kuat fisiknya. Karena pengorbanan tenaga, pikiran dan waktu yang banyak untuk merawat para pasien. Sekarang, persepsi saya berubah. Ternyata ada perawat lain yang lebih kuat daripada mereka. Yup, itulah ‘ibu’.

ibuSeorang ‘ibu’ merupakan perawat yang paling kuat. Ia bisa tidak berhenti bekerja 24 jam sehari. Hal ini saya sadari setelah menjadi ‘ibu’ bagi anak pertama saya yang lahir pada akhir bulan juni yang lalu.

Muhammad Fatihul Ilmi.. itulah nama yang kami (saya dan suami) berikan pada mujahid kecil kami itu. Sejak kehadirannya di rumah, kebahagiaan keluarga besar kami terasa lengkap. Alhamdulillah.. dan sejak menjalankan peran sebagai ‘ibu’, saya ‘dording’ 3 shift setiap hari, selama 2 bulan.

Bagaimana tidak, si kecil ini memiliki pola tidur yang berbeda dengan orang dewasa. Siang dia tidur, malamnya bangun. Jadilah saya mengasuh si kecil siang-malam… untungnya ada ibu saya yang membantu saya mengasuhnya di sepertiga malam terakhir.. jadi bisa istirahat sejenak…🙂

Alhamdulillah sejak usianya memasuki bulan ke 3, ia sudah bisa tidur nyenyak di malam hari. Jadinya saya juga bisa tidur, walau masih terjaga juga beberapa kali untuk menukar celananya yang basah karena “pipis” atau untuk memberikan ASI.

Efek menyadari peran ini, saya jadi lebih “mellow” kalo dengar/liat sesuatu yang membahas tentang “ibu”. Seperti beberapa minggu yang lalu, ketika saya melihat tayangan ceramah agama di TV, tetiba air mata saya jatuh menganak sungai… bukan pada saat ceramahnya (temanya tentang menjadikan anak sholeh) tapi, pada saat mendengar lagu qasidah tentang “ibu”. Padahal saya sudah sering dengar lagu itu. Tapi entah kenapa, saat itu terdengar begitu menyentuh…

Liriknya begini:

—————————————————————————–

Ibu, kaulah wanita yang mulia

Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah (2x)

Kau mengandung, melahirkan, menyusui..

Mengasuh, merawat, lalu membesarkan putra-putrimu, ibu..

Lautan kasih sayang
Pada setiap insan
Mataharinya alam
Sebagai perumpamaan
Dunia isinya belumlah sepadan
Sebagai balasan ibumu melahirkan

Doanya terkabulkan keramat di dunia
Kutuknya kenyataan jangan coba durhaka
Syurganya Tuhanmu dibawah kakinya
Ridhanya Ibumu ridha Tuhan jua
Wahai jangan jadi anak durhaka

—————————————————————————–

Hmm.. saya jadi benar-benar merasakan bagaimana ibu saya dulu merawat dan membesarkan saya, mendo’akan kebaikan selalu untuk saya… bahkan kasih sayangnya tak pernah putus sampai kapanpun. Sungguh, takkan pernah mampu saya membalas segala yang telah diberikannya. Ibu, I Love you so much… semoga Allah SWT memberi kebahagiaan, kesehatan, kemudahan dalam setiap aktivitas dan berkahNya selalu untukmu ibu… dunia dan akhirat.. aamiin.

Cukup dulu untuk kali ini, kapan-kapan nulis lagi..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang Berlalu (jangan) Biarkan Berlalu

Published Desember 11, 2014 by Hawa

Enam Bulan Berlalu, sejak postingan terdahulu

Tentang sang pungguk nan merindu

Menghiasi Blog yang tampak lesu

karena si empunya (sok) sibuk melulu

oke baiklah, kita mulai cerita ya.. satu-persatu

Tiga Bulan yang lalu, terjadi peristiwa haru

Tentang perjanjian ayah dan menantu

Tentang dimulainya perjalanan baru

Tentang bergetarnya ‘Arsy saat itu

akad nikah

Ketika do’a-do’a terus melimpah

dari segala penjuru jalinan ukhuwah

Barakallah… Barakallah

do’a semoga kebaikan semakin bertambah

 rumah tangga sakinah mawaddah warahmah

berdoa setelah akad

Allahu Rabbi…

sungguh pertemuan ini

belum pernah terbersit dalam hati

belum pernah terlintas dalam memori

hanya karena ‘iradahMu’lah semua ini terjadi

pembukaan 2

maka kuatkanlah ikatannya

kekalkanlah kebaikan-kebaikan di dalamnya

yaa Rabbi… bimbinglah kami

Jangan-jangan Kitalah Sang Pungguk

Published Juni 24, 2014 by Hawa

punggukAduhai pungguk merindukan Bulan
Untuk dipandang dalam genggaman
Bukanlah salah pada harapan
Yang salah bila tak ada upaya mewujudkan

Aduhai pungguk mengharap wisuda
Adakah mungkin akan terlaksana
Bila hanya berdiam tanpa usaha
Duduk manis yang sia-sia

Aduhai pungguk mengharap kebaikan negara
Adakah mungkin akan terwujud
Bila memilih pemimpin hanya ikut-ikut
Apalagi apatis dan saling sikut

Aduhai pungguk mengharap surga
Adakah mungkin akan ke sana
Bila beramal amalan ahli neraka
Merasa selalu benar dan tak mendengar nasihat saudara

Aduhai jangan-jangan kitalah Sang Pungguk
Dengan harapan bertumpuk-tumpuk
Namun tak sadar telah terpuruk
Dalam debu dunia yang amat buruk

Marhaban yaa Ramadhan..
Semoga masih diberi kesempatan
Memperbaiki setiap kesalahan
Menggantinya dengan kebaikan
Menjadi ridho dan ampunan… Allahul musta’an

Bahwa Jakarta-Bandung itu begitu ‘Dunia’

Published April 3, 2014 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Baiklah, kali ini saya ingin posting sedikit saja…

di depan rektorat uiBahwa beberapa hari yang lalu Allah menakdirkan saya ke Jakarta dan Bandung
Bahwa Jakarta dan Bandung itu begitu “Dunia”
Bahwa saya lebih tertarik menuju Universitas Indonesia daripada mall-mall nya
Bahwa saya memilih mengunjungi Masjid dan Perpustakaannya
di depan balairung
Bahwa saya berkunjung ke Jakarta & Bandung
Bahwa saya mendapati barang-barang murah di sana
Bahwa saya jadi terpikir ‘manggaleh’ saja di Padang
Bahwa saya kembali ke realita… Tesis harus dikejar dulu pemirsa..
di depan pustaka
Bahwa ketika berpose di depan Perpustakaan UI bersama sepupu kecil saya
Tampaknya jarinya menunjukkan angka ‘tiga’
Pilihan yang benar inshaAllah di 9 April ya adinda …
Jangan lupa sampaikan pada Ayah bunda.. ^^

salam s3mangat… di trans studio Bandung