Ketika Akhwat Jatuh Hati

Published November 17, 2017 by Hawa


Seorang adek mendekatiku. 

“Kak…kak” katanya setengah berbisik

“Apa” jawabku

“Adek mau bicara sesuatu, tapi kakak jangan ketawa” katanya dengan suara yang amat pelan

“Huaaa…ha..ha…ha..” aku tertawa dibuat-buat

“Ih.. kakak ni.. jangan ketawa dan jangan bilang siapa-siapa ya” katanya dengan nada serius

“Sama siapa kak mau bilang dek…. sama fathan?” Timpalku

“Hehe… uhmmm… gini kak, kakak pernah gak kagum sama ikhwan?” Tanyanya

“Apa?” Kataku dengan mata setengah terbelalak. “Ehm… sering”kataku sekenanya.. “emang kenapa? Adek sedang kagum dengan seseorang?”

“Iya… makanya adek tanya. Gimana tu kak, itu kan gak boleh..” katanya dengan suara putus-putus dan kepala menunduk, matanya melirik malu-malu.

“Hihi… adek, kagum sama seseorang itu fitrah”

“Tapi kan gak boleh kak..”

“Yang gak boleh itu kalo adek menyerahkan hati adek alias jatuh cinta padanya. Itu beda loh dek”

“Apa bedanya kak”

“Ya beda lah, kalo kagum itu ya sebatas menyukai sifat-sifatnya, misalnya karena ia sholeh, atau karena ia rajin, bertanggung jawab, pintar, dan lain-lain, tapi gak terus menerus tertanam dalam hati dan pikiran. Kalo jatuh cinta itu ya artinya adek menyerahkan segala perhatian padanya, hati dan pikiran selalu tertuju padanya.”

“Trus gimana kak, adek terbayang-bayang terus orangnya, dan itu mengganggu pikiran adek”

“Istighfar dek, minta sama Allah dikuatkan hati adek. Setan sedang berusaha membolak-balik hati adek, berdoalah supaya Allah meneguhkan hati adek selalu dalam jalan yang diridhoi Allah”

“Owh.. gitu ya kak”

“Iya… jangan jatuh cinta pada orang yang tidak tepat dek. Hati adek hanya berhak dimiliki oleh orang yang sudah Sah dalam ikatan Pernikahan. Dan gak penting jatuh cinta pada orang yang belum tentu jodoh adek.. gak penting banget…”

“Ooooo…..oke deh”

“Nah, gitu dong.. Allah itu menjanjikan yang baik untuk yang baik pula. Bila adek menjaga hati, percayalah di tempat lain sang jodoh adek juga sedang berusaha menjaga hatinya”

“Ya kak… sip sip” katanya mengangguk dan pamit 

Aku jadi teringat sesuatu. Ketika dulu di kampus tak pernah jumpa abinya fatih fathan, walaupun satu daerah asal, walaupun beberapa kali ikut dalam pertemuan aktivis dakwah se unand, walaupun aku tahu namanya, ia tau namaku, tapi kami tak pernah menyengaja bertegur sapa. Sampai akhirnya Allah mempertemukan kami di rumah Murabbiku. Ia datang bersama Ustadnya. Dan itulah pertemuan ta’arufku dengan seseorang yang kemudian jadi suamiku. Ketika kemudian kutanya ia setelah menikah, “apa abi memilih umi?”. Ia jawab “enggak. Allah yang pilihkan ummi untuk abi”.

Iklan

Akankah aku punya sekolah..

Published November 15, 2017 by Hawa

aku mimpi…

Akankah aku punya sekolah…

Seperti Ust. Rahmat Abdullah yang mendirikan sekolah IQRO’

Atau seperti KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan sekolah Muhammadiyah

Atau seperti Ki Hajar yang mendirikan sekolah Taman Siswa

Atau seperti pak Irwan Prayitno yang mendirikan sekolah Adzkia

Hmm… aku sedang bermimpi

Bolehkah aku bermimpi?

Indikator Kebenaran

Published November 14, 2017 by Hawa

Itu kalimat salah seorang artis yang dikutip di salah satu surat kabar tanah air. Seperti diketahui, artis berinisial RN ini sedang banyak dihujat karena melepas hijabnya, setelah setahun ia kenakan.

Dari kalimat-kalimat yang ia sampaikan sungguh menurut saya semua alasannya dapat dibantah dengan mudah… wallahi.. 

Contohnya seperti kalimat di atas. Jelas sekali dia sudah salah prioritas. Minta maaf itu harusnya kepada Tuhan dulu, baru kepada manusia. Bukan sebaliknya. Gak bisa dong, dengan alasan Tuhan maha pengampun, ia menomorduakan Tuhan. Tuhan memang maha pengampun, tapi ya gak diampuni kalo gak tobat, wong fir’aun aja di detik-detik terakhir hidupnya saja mau tobat, gak diampuni kok. 

Ah, saya akhirnya jatuh pada kata “kasihan” padanya. Yah, walaupun saya juga tak lepas dari khilaf dan dosa, namun kalo sudah hijab yang dilepas, itu artinya hidayah berhijab sudah dicabut oleh Allah. Padahal hijab itu “wajib” hukumnya dikenakan oleh muslimah. 

Saya merenung, dulu ketika saya belum berhijab, saya juga melakukan pencarian. Yakni pencarian indikator kebenaran. Saya berhijab kelas 2 SMA. Sebelumnya, saya tidak mengerti bahwa hijab adalah kewajiban. Malah dulu saya membenci teman-teman maupun senior-senior yang mengenakan hijab. Mereka terkesan ekslusif dan hanya berteman dengan sesama mereka saja. Kemudian saya penasaran dengan apa yang mereka lakukan, sehingga saya masuk rohis sekolah. 

Selang beberapa kali mengikuti kajian keislaman di sekolah, yang diadakan tiap jumat siang, saya berkesimpulan bahwa yang saya benci selama ini adalah sikap manusianya (muslimnya), bukan Islamnya. Karena dalam Islam sudah diatur sikap-sikap yang baik sebagaimana seharusnya.

Sejak itu, setelah melalui pemikiran mendalam, diskusi dengan teman-teman dan lobby-lobby ke orang tua, akhirnya saya berhijab.

Nah, saya rasa si artis tersebut awalnya juga mengalami pergolakan di hatinya sebelum memutuskan berhijab. Ia mencari indikator kebenaran juga, seperti yang saya alami. Hanya saja, dalam pencarian itu, tampaknya ia galau hendak kemana.

akhirnya, indikator kebenaran itu saya temukan. Ia bernama Al-Qur’an dan Sunnah. Dengannya, saya tahu mana yang benar mana yang salah. Mana yang baik mana yang buruk. Dan  saya jadi tahu, bahwa kebenaran itu tidak pernah ganda frens, ia mutlak hanya satu. Kebenaran hanya satu. Yakni bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Gampang kan..

Contoh:

 1) wanita dewasa berenang di ruang terbuka dan dilihat banyak orang

2) jalan-jalan ke luar negeri

3) belajar kelompok di rumah teman sambil nonton blue film

4) marah ketika Nabi Muhammad dilecehkan dalam bentuk kartun

5) pake jilbab saat sekolah dan lepas jilbab kalo ke pasar

Dari kelima item itu, jelas kan mana yang baik dan mana yang buruk kalo sudah tau indikatornya?

Gendong Mi..

Published Oktober 29, 2017 by Hawa

“Gendong mi”… kata fatih, anak pertamaku. 

“Gendong nak? Fatih kan udah besar ” timpalku. Padahal baru 2 tahun 4 bulan usianya.

“Mau gendong” katanya terus merengek

“Baiklah” untung adek bayi lagi tidur. 

Kuambil kain gendong, kemudian kugendonglah sulungku itu. Kuayun perlahan dalam pelukan. Ia menguap, menandakan telah mengantuk. Kuelus rambutnya, kupandangi raut wajahnya yang sudah terlelap. Tak terasa ada genangan air di pelupuk mata yang segera menganak sungai, mengalir hangat di wajahku.

Lama sudah rasanya aku tak melakukan ini. Sejak dinyatakan hamil kedua dulu sampai sekarang, inilah kali pertama aku menggendongnya lagi.

Lama sudah aku tak memeluknya erat seperti itu. Mungkin iapun rindu. Tampak dari caranya merengek minta digendong. Ah, akupun rindu. Bukankah dulu hanya ia yang selalu kugendong kemana saja.

Ia telah tidur di pangkuanku. Aku berbisik padanya.. nak, maafkan ummi yang tak dapat lagi menggendong sesering dulu. Karena adek bayi lebih butuh ummi saat ini. 

Nak, dulu dirimulah yang selalu dalam pelukan ummi. Begadang ummi tiap malam di awal kelahiranmu. Menggendongmu telah menjadi kebiasaan ummi sejak saat kau hadir mengisi hari-hari ummi dan abi.

Jatuh lagi tetes demi tetes air mataku. Ummi menyayangimu nak.. takkan berkurang sayang ummi sampai kapanpun.

Ia tampak telah larut dalam mimpinya. Dan pinggangku juga mulai terasa ngilu. (Kan fatih udah berat sekarang). Kubaringkan ia di kasur pelan-pelan. Rupanya ia merasakan perubahannya dan terbangun daaaaannnn seketika menangis berteriak ..

“Ummiiii… huuu…abiiiii… huaaaaaa”

Yeah.. ummi buatin susu dulu ya… 

 Lupa

Published Oktober 28, 2017 by Hawa


Rencana Allah itu teramat indah, sayang..

Bila Kau pernah jatuh dan terluka parah, hingga kau tak yakin akan dapat bangun lagi atau tidak

Maka percayalah Allah akan mengangkatmu dan membalut lukamu hingga tak berbekas, sampai-sampai kau lupa bahwa dirimu pernah jatuh dan terluka.

Saat itu, yang kau tahu hanya tentang Bahagia…

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan.

Kemenangan = Fathan

Published Oktober 23, 2017 by Hawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah… segala puji dan syukur pada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia yang tak terhitung jumlahnya, yang apabila kita coba menuliskan nikmat-nikmat itu dengan pepohonan sebagai pena dan lautan sebagai tintanya, niscaya tak akan mampu kita menuliskan semuanya, walaupun ditambah tujuh kali lipat pepohonan dan lautan lagi.

Anyway, setelah sekian lama libur menulis (kebiasaan.. hehe), Saya ingin berbagi pengalaman tentang perjalanan kehamilan dan persalinan saya yang kedua. Karena kehamilan kedua ini cukup banyak rintangan yang harus saya dan bayi saya hadapi. Namun tentu saja selalu ada kemudahan dibalik kesulitan kan ya… fa inna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro…

Sejujurnya, ingin sekali menuliskan pengalaman ini saat sedang merasakannya. Namun saya putuskan untuk menundanya, karena saya ingat sebuah kalimat bijaksana yang pernah saya dengar bahwa “ceritakanlah kegagalanmu saat kau telah sukses”.. nah, maka saya jadi berpikir, saya akan menceritakan kisah saya ini ketika saya telah berhasil melaluinya dan mendapatkan hikmahnya (insyaAllah). Tentu bukan untuk berbangga diri,namun untuk berbagi dan memberi semangat pada ibu-ibu di luar sana yang mengalami hal yang sama dengan yang pernah saya alami.

1) Perdarahan (Bleeding) alias Abortus Imminens

Pada minggu ke 11 kehamilan saya, terjadi perdarahan (bleeding) yang membuat saya cemas bukan kepalang. Sebagai perawat (walaupun tak bekerja di klinik), saya tahu betul bahwa dalam kehamilan,tak boleh keluar darah dari jalan lahir.

Kejadiannya berawal dari ke”sok tahu’ an saya terhadap tubuh saya sendiri. Saya menganggap tubuh (rahim) saya kuat-kuat aja bermotor (pulang-pergi) setiap hari kerja dalam keadaan hamil muda. jarak yang ditempuh kira-kira 17 KM (kata ayah saya), pulang pergi berarti sekitar 34 KM. dan saya tempuh dalam waktu 25-30 menit, berarti sekitar 1 jam saya bermotor setiap hari. Alhasil pada minggu ke 11, saat itu sore hari, saya merasa ada yang basah di daerah bokong sampai kaki, dan terasa hangat mengalir di kaki saya. Ketika saya lihat, sontak saya sangat kaget dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk memastikan apa yang terjadi. Rupanya kekhawatiran saya benar, darah mengalir membasahi celana hingga baju gamis saya bagian belakang.

Singkat cerita, saya diantar ke Rumah Sakit oleh ayah dan suami saya. Di perjalanan, air mata mengalir deras tak tertahankan. Semua hal-hal buruk terbayang. Saat bertemu dokter spesialis obgyn (dr. ZYD), dinyatakan bahwa janin saya masih sehat,hanya saja saya perlu bedrest total di rumah. Akhirnya malam itu saya pulang ke rumah dengan tenang. Namun, seminggu berlalu, masih keluar darah dari jalan lahir (walaupun tak mengalir deras seperti diawal dulu). Darah yang keluar menggumpal dan  memanjang (mirip cacing).

Saya memutuskan berobat ke Puskesmas, dan dokter puskesmas merujuk ke RS. Di RS,Dokter Obgyn saya (dr. GT) menyarankan untuk bedrest di Rumah Sakit. Akhirnya, saya dirawat 4 hari di Rumah Sakit. Bedrest Total yang baru pertama kali saya jalani, dimana segala aktivitas dilakukan di tempat tidur (makan,minum, BAK/BAB, dsb). Beruntung saya mempunyai suami yang sabar melayani segala kebutuhan saya selama dirawat.

Alhamdulillah perdarahannya berkurang dan keadaan saya jauh membaik. Dokter membolehkan saya pulang dan memberikan obat penguat kandungan. Dokter mengatakan bahwa Saya tidak boleh lagi mengendarai motor. Akhirnya, sejak itu saya punya supir pribadi kemanapun pergi.. dialah pak suami.

2) Plasenta Previa Totalis

Pada usia kehamilan minggu ke 28, saya yang pada waktu itu berencana ingin melahirkan normal (pervaginam), bela-belain kontrol kehamilan ke praktek dokter yang jauuuuhhh dari rumah dan juga prakteknya malam, dan dapat urutan akhir. Lengkap sudah kan ya… tapi tak apa, ini demi niat suci dan mulia (halah…). kok segitunya? Karena dokter ini terkenal  “ Pro Partus Normal” alias kebanyakan pasiennya dia usahain lahiran normal. Gak dikit-dikit sesar, gitu.

Setelah lama ngantri sampai jam 10 malam, akhirnya tiba juga giliran saya. Namun, dokter tersebut mendiagnosa Plasenta Previa Totalis, sehingga sirna sudah harapan saya untuk lahiran normal. bahkan tidak itu saja, dokter tersebut juga mewanti-wanti saya agar jangan sampai jatuh dikehamilan trimester akhir ini. Karena beresiko perdarahan hebat..

And you know,… akhirnya saya dan suami pulang dengan langkah gontai.

Suami bertanya, apa plasenta previa tu mi?’. Saya jelaskan “plasenta previa itu adalah keadaan dimana plasenta atau dikenal juga dengan sebutan ari-ari menutupi jalan lahir. Ada yang menutup sebagian dan ada yang letaknya menutup jalan lahir secara total, jadi bayinya gak bisa lewat bi. Mesti sesar”.

3) Nyeri

Semakin lama,saya merasakan nyeri di bagian simphisis pubis saat beraktivitas, nyeri itu semakin meningkat saat kehamilan semakin besar. Duduk aja nyeri apalagi berdiri dan berjalan. Sehingga saya tak bisa duduk lama. Sebentar-sebentar berbaring, gitu. Bahkan sholat saya duduk aja. Akibatnya,saya tidak bisa bekerja dengan maksimal. Dokter mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena plasenta terhimpit dan menggesek bagian bawah rahim. Dokter obgyn saya (dr.GT) lalu  menyarankan saya untuk izin bekerja supaya bisa istirahat di rumah. Dan saya diizinkan  oleh pimpinan untuk izin bekerja sementara,namun harus datang minimal sekali dalam seminggu, karena saya belum terhitung cuti.. alhamdulillah… saya sangat berterima kasih pada para pimpinan saya,bu Febi, bu betri dan bu eva.

4) Resiko Bayi Prematur

Informasi dari dokter,bahwa bayi saya terancam prematur bila saya mengalami perdarahan sebelum waktu lahiran tiba. Waktu yang aman untuk melahirkan itu usia 37-42 minggu. Idealnya siy 40 minggu. Namun, biasanya, seseorang dengan plasenta previa totalis akan mengalami perdarahan sebelum waktunya, sehingga bayi terpaksa harus dilahirkan,berapapun usia kehamilannya. Yang bisa saya lakukan adalah berhati-hati agar tidak terjadi perdarahan dengan cara membatasi aktivitas, menjaga supaya tidak jatuh, dan makan makanan yang membuat bayi menjadi lebih cepat besar (gemuk). Dokter menyarankan saya minum susu D*nc*w, es krim, perbanyak yang manis-manis. Ia berpesan jangan sampai melahirkan bayi sebelum waktunya. Dan saran dari beliau saya ta’ati semua.

***Mukjizat 1***

Di minggu ke 33, saya merasa ada yang agak berbeda dengan nyeri yang saya rasakan. Sebab, biasanya saya tak bisa duduk agak lama. Saat itu saya bisa duduk lumayan lama, karena saya harus menyusun laporan penelitian di kantor. Lalu saya cek di Rumah Sakit, rupanya benar, plasentanya bergeser. Alhamdulillah… dokter mengatakan plasentanya tidak lagi menutupi seluruh jalan lahir, tapi sudah bergeser sedikit ke samping, sehingga mengurangi nyeri.

***Mukjizat 2***

Alhamdulillah, tak ada perdarahan di trimester akhir.. karena membatasi gerak dan tak ada jatuh.

*** Mukjizat 3***

seminggu sebelum melahirkan, hasil usg menunjukkan berat bayi saya 2,8 Kg. Kata dokter, bayi saya sudah boleh dilahirkan pada minggu depannya (37 minggu). Jadi selama seminggu itu saya makan es krim,minum susu, makan roti, dsb. Alhamdulillah, ketika lahir, berat badan bayi saya 3,8 Kg, panjang nya 53 cm. Enduuuttt dan tinggi  ya… alhamdulillah wa syukurilah..

IMG_20171023_164849

jadi, meskipun saya tak jadi lahiran normal (pervaginam), namun alhamdulillah bayi saya lahir sehat (gak prematur), sayanya juga alhamdulillah sehat (walaupun nyeri pasca sesar itu maknyusss banget, tapi terbayarkan dengan melihat bayi saya).

Begitulah akhirnya, saya terhindar dari segala hal-hal yang menakutkan, dan bayi saya juga kuat dan memenangkan peperangan melawan AGHT (Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan) selama dalam perut. Jadi dinamailah ia “Muhammad Fathan Abqori”. Fathan artinya Kemenangan, dan Abqori artinya Jenius alias cerdas banget, dan semoga dengan melekatnya nama nabi Muhammad, menjadikan ia meneladani sifat-sifat  baginda nabi tersebut.. aamiin

Terima Kasih Ya Allah, atas segala karuniaMu.. maafkanlah segala alpa dan khilaf hamba yang lalai bersyukur. Terimakasih suamiku, telah berjuang bersama, mengantar ke sana kemari, membelikan makanan, eskrim, dsb. Terimakasih Ayah dan Ibu.. ayah sering membuatkan air kelapa, ngantar jemput fatih (anakku yg pertama) ke PAUD, Ibu selalu buatin bubur kacang hijau tiap hari, masakin masakan-masakan enak untuk kami semua, ngurus fatih dan fathan juga…tak terhitung jasamu… maafkanlah bila pernah menyakiti hatimu.. love you so much..

 

 

Rohingya Membuka Mata..

Published September 16, 2017 by Hawa

Rohingya… dan aku tak tega

Melihat penderitaan anak anak tak berdosa

Menyaksikan saudara-saudari muslimku dinista

Memandang perih asbab pemerintah bersama militer dan bhiksu2nya yang tak punya rasa iba
Rohingya… dan aku tak rela

Tak rela atas penyiksaan yang kau terima

Tak rela atas ketidakadilan penguasa burma

Tak rela atas bisu dan tulinya dunia
Rohingya… dan aku tak berdaya

Tak berdaya membebaskanmu dari jerat sang durjana

Tak berdaya menolongmu keluar dari sana

Tak berdaya mengantarkanmu pada kebebasan
Rohingya… dan aku berdo’a

Semoga Allah memudahkan segala kesusahanmu

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin dan memenangkanmu

Semoga Allah memperbanyak pemimpin muslim dunia yang berani membelamu

Semoga surga bagimu..

Dan semoga Allah juga membuat kita bersua di sana… di tempat yang tidak ada tempat lain yang lebih adil dan nyaman daripada tempat lainnya.

Rohingya… dan kau membuka mata

Pada orang-orang yang menganggap radikal umat muslim indonesia, padahal karena umat muslim dominan lah, semua terlindungi.. tak seperti saat muslim minoritas.. seperti yang kau alami.

Kau juga membuka mata, pada orang-orang yang menuduh muslim itu SARA, padahal, ketika muslim minoritas, ia menderita kesengSARAan.. seperti yang kau rasakan.